Pandemi covid-19 yang disebabkan oleh virus korona membuat sektor pariwisata, terutama di provinsi Bali menjadi turun drastis. Kebijakan pemerintah dalam pembatasan pergerakan masyarakat yang berlangsung secara ketat mengakibatkan penutupan akses masuk bagi wisatawan sekaligus penutupan tempat wisata itu sendiri. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ataupun pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berdampak langsung pada penurunan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Badung selama tahun 2020. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Badung, TPK hotel di kabupaten Badung pada tahun 2020 menurun secara signifikan mencapai angka 14,35 persen untuk hotel berbintang dan 15,18 persen untuk hotel non bintang dibandingkan dengan tahun 2019 yang rata-rata berkisar 50-70 persen untuk hotel berbintang dan 30-50 persen untuk hotel non bintang di tiap bulannya. Menurunnya sektor pariwisata di Bali membuat perekonomi Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata pun menjadi ikut terpuruk.

Abad 21 merupakan era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan pesat, terutama dalam bidang informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi ini sangat memudahkan kehidupan manusia yang membuat kita semakin mudah memperoleh, mengirim dan mengolah informasi yang ada. Pariwisata merupakan salah satu bidang yang telah terbantu dengan perkembangan teknologi dan komunikasi. Adanya teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang di bidang pariwisata dapat memudahkan wisatawan untuk mengetahui tentang tempat-tempat wisata yang ada bahkan di pelosok daerah dengan lebih mudah (Prasetyo, 2019). Hal-hal seperti pemesanan tiket pesawat ataupun hotel, pemilihan destinasi wisata, bertransaksi, dan lain sebagainya dapat dilakukan dengan memanfaatkan gadget yang mereka miliki, wisatawan dapat memperoleh informasi dengan cepat, tepat, akurat dan mudah. Perkembangan teknologi ini juga dapat bermanfaat bagi para pengusaha yang bekerja di bidang pariwisata untuk mempromosikan jasa ataupun produk yang dimiliki di masa pandemi Covid-19.

Digitalisasi terhadap Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi

Munculnya kebiasaan baru yang disebabkan oleh pandemi yang sedang terjadi membuat tren pariwisata pun ikut berubah. Wisatawan bisa leluasa pergi berlibur kemanapun baik di dalam negeri ataupun di luar negeri sebelum terjadinya pandemi. Namun, adanya pandemi menyebabkan tren beralih menjadi liburan tanpa terjadi banyak interaksi secara langsung dengan orang lain agar dapat terhindar dari virus, yaitu staycation. Saat ini sudah banyak sekali aplikasi untuk mencari tempat wisata yang bisa digunakan untuk menunjukkan jalan dan merekomendasikan destinasi wisata cantik, wisata kuliner, hingga wisata sejarah. Contohnya seperti Google Maps, Google Trip, Waze, dan masih banyak lagi. Selaian itu, terdapat juga aplikasi yang dapat mempermudah wisatawan untuk memesan tiket pesawat ataupun kamar hotel. Contohnya seperti Traveloka, Trivago, PegiPegi dan lain sebagainya. Adanya aplikasi-aplikasi tersebut yang menyediakan berbagai fitur yang dapat dicoba oleh pengguna bisa menjadi solusi untuk mempermudah wisatawan yang ingin pergi berlibur di masa pandemi Covid-19.

Strategi yang Dapat Dilakukan untuk Membangkitkan Pariwisata di Kabupaten Badung

Terdapat strategi-strategi dalam menyelamatkan industri pariwisata di Indonesia pasca pandemi Covid-19 yang dibagi menjadi tiga, yaitu strategi jangka pendek, jangka menengah serta jangka panjang (Jumadi, 2020). Strategi jangka pendek dapat dilakukan dengan dukungan yang diberikan pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya terhadap industri pariwisata, melakukan inovasi dalam memasarkan produk, membuat prosedur operasi standar mitigasi bencana termasuk pandemi Covid-19 dengan mengetatkan protokol kesehatan pada lingkungan destinasi, dan sebagainya. Strategi jangka menengah dilakukan melalui strategi kolaborasi antara Academic, Business, Government, Customer and Media (ABGCM). Penerapan strategi ini akan optimal apabila dapat berkolaborasi dengan baik yaitu menyeimbangkan masing-masing peran di bidangnya masing-masing. Strategi jangka panjang dapat dilakukan dengan mendesain sistem manajemen operasi industru pariwisata yaitu pembenahan kualitas destinasi dan SDM serta penyediaan fasilitas pendukung yang memadai.

Masa pandemi Covid-19 membuat pelaku industri pariwisata, terutama penyedia hotel harus mulai melakukan adaptasi agar tetap bisa bertahan. Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), penyedia hotel bisa menawarkan WFH (Work From Hotel), hingga melengkapi sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability) agar wisatawan yang berkunjung dapat merasa lebih aman pada saat berlibur. Selain itu, tempat wisata yang terpaksa ditutup karena sepi pengunjung akibat pandemi Covid-19 harus memanfaatkan teknologi yang tengah berkembang pesat untuk melakukan inovasi, salah satunya dengan melakukan virtual tourism untuk berlibur secara online sehingga bisa meminimalisir potensi penularan virus serta usahanya tetap berjalan di tengah pandemi yang terjadi. Pemerintah saat ini pun tengah melakukan perbaikan terhadap sarana prasarana seperti penambahan dan peningkatan kualitas rumah sakit, ruang isolasi dan kapasitas laboratorium. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap pariwisata di Bali, khususnya kabupaten Badung akan kembali bangkit.

Kesimpulan

            Teknologi yang tengah berkembang pesat di era globalisasi menjadi inovasi untuk menggaet wisatawan di masa pandemi Covid-19. Adanya digitalisasi pada sektor pariwisata membuat wisatawan tidak perlu melakukan banyak interaksi secara langsung dengan pelaku industri pariwisata. Inovasi-inovasi seperti melakukan liburan secara virtual yang memanfaatkan teknologi digital merupakan salah satu contoh untuk mempromosikan destinasi wisata di kabupaten Badung. Pengetatan protokol kesehatan pada tempat wisata juga perlu dilakukan oleh setiap pelaku industri pariwisata demi meminimalisir terjadinya penularan virus terhadap wisatawan. Hal ini akan membuat wisatawan menjadi lebih aman dalam berlibur. Kerjasama yang baik antara pemerintah, pelaku industri pariwisata serta masyarakat sekitar akan membuat sektor pariwisata di Badung kembali pulih.

DAFTAR PUSTAKA

Jumadi. (2020). Pariwisata Indonesia Pasca Covid-19 dan Strategi New Normal. Diambil dari: http://new.widyamataram.ac.id/content/news/pariwisata-indonesia-pasca-covid-19-dan-strategi-new-normal#.YkIfVudBzIV

Kemenparekraf/Baparekraf RI. (2021). Tren Pariwisata Indonesia di Tengah Pandemi. Diambil dari: https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Tren-Pariwisata-Indonesia-di-Tengah-Pandemi

Prasetyo, E. (2019). Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pariwisata Indonesia. Kompas. Diambil dari: https://www.kompasiana.com/epras/5d418b4d097f366a40324a62/pemanfaatan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dlam-pariwisata-indonesia

Triasmoro, Sony Puji. (2021). Tingkat Penghunian Kamar Hotel Kabupaten Badung 2020. Badung: BPS Kabupaten Badung.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *