*Oleh I Nyoman Tingkat

Badung – Bali. Faktapers.id – Sejak 2 Maret 2020 Presiden Jokowi mengumumkan Indonesia telah terpapar Covid-19, dengan dua kasus di Jawa Barat. Selanjutnya, 11 Maret 2020 WHO menyatakan pandemic covid-19 secara global. Dampaknya, sekolah-sekolah ditutup dan pembelajaran dari rumah yang dikenal dengan BDR atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sejak 16 Maret 2020.

Saya sebagai Kepala Sekolah, di SMA yang baru berdiri belum genap setahun dengan 264 siswa Kelas X merasa gagap menghadapi BDR/PJJ. Lebih-lebih, para siswa sedang senang-senangnya menempati gedung baru yang mulai ditempati selama 2 bulan, sejak Januari 2020. Sebelumnya, sekolah kami menumpang di sekolah lain selama satu semester. Kegagapan disebabkan oleh keterbatasan sarana prasarana pendukung pembelajaran dan sumber daya manusia baik secara kuantitas maupun secara kualitas penguasaan Teknologi Informasi. Sementara itu, PJJ/BDR wajib dilaksanakan. Para siswa tidak libur, tetapi tetap belajar dari rumah.

Pada awalnya, minggu pertama BDR disambut gembira oleh sebagian besar siswa. Mereka mengira belajar dari rumah itu lebih enak, tidak tergesa-gesa ke sekolah, dan fleksibel. Akan tetapi, memasuki minggu kedua, para siswa menghadapi kejenuhan dengan alasan tugas menumpuk. Hubungan guru murid minim komunikasi, sebatas menyampaikan tugas yang wajib dikerjakan. Bisa dibayangkan, bila mata pelajaran di SMA ada 16, maka ada 16 tugas yang harus dikerjakan siswa dalam sepekan. Di tengah tekanan ekonomi dan pandemic, para siswa juga mesti menjaga imun dan merawat iman di tengah tumpukan tugas. Ini pasti berat bisa mengganggu imunitas dan membuat kekalutan. Tidak memerdekakan, malah terkesan ‘menjajah’.

Atas keluhan itu, pada minggu ketiga PJJ/DR saya selaku Kepala Sekolah memberikan relaksasi kepada siswa dan memerintahkan para guru untuk tidak memberikan tugas. Sebagai gantinya, saya melakukan survey terkait dengan PJJ/BDR. Survey dilakukan secara daring melalui google form direspon oleh 241 siswa, sisanya tanpa respon. Hasil survey menunjukkan, para siswa merasa jenuh BDR dengan tugas bertubi-tubi, belum lagi menghadapi orangtua yang rewel di rumah, kuota terbatas, orantua PHK, kualitas menu makanan keluarga menurun.

Merespon keluhan itu, saya memerintahkan bidang Kurikulum untuk mengubah jadwal pembelajaran. Selama masa BDR siswa hanya bertemu guru mata pelajaran sekali seminggu, yang biasanya bisa bertemu dua kali untuk mata pelajaran tertentu, seperti matematika karena ada Matematika Wajib dan Matematika Peminatan. Selanjutnya, saya sebagai Kepala Sekolah memberikan paket kuota pada para siswa yang dialokasikan dari dana BOS, masing-masing siswa diberikan Rp 50.000,00 sebulan pada Mei 2020 bertepatan dengan pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun yang dilaksanakan secara daring.

Sebagai bentuk aplikasi Merdeka Belajar, saya perintahkan para guru untuk menjadikan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 4 Tahun 2020 tanggal 24 Maret 2020 sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran. Inti dari BDR menurut Edaran ini adalah pembelajaran bermakna dan kontekstual bagi siswa tanpa tuntutan menuntaskan Kurikulum. Pembelajaran difokuskan pada kecapakan hidup agar terhindar dari Covid-19, dengan metode bervariasi sesuai dengan minat siswa. Guru diharapkan selalu merespon aktivitas belajar siswa secara kualitatif tanpa harus memberikan skor dalam bentuk angka.

Berpijak pada edaran itu, Merdeka Belajar pada masa pandemi sesungguhnya memberikan peluang seluas-luasnya bagi siswa mengembangkan bakat dan minatnya. Pun memberikan ‘kebebasan’ seluas-luasnya bagi guru berkreasi dan berinovasi untuk melakukan transfer pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap kepada siswa. Siswa yang berbakat menyanyi, menari, melukis, berolahraga, berbahasa lisan/tulisan (Indonesia, Bali, Inggris), dan berbakat sains merdeka mengembangkan kemampuan dirinya.

Persoalannya adalah banyak potensi siswa tak bisa berkembang optimal karena keterbatasan tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya, seperti pengembangan Taekwondow dan silat. Juga belum tersedia instrument gamelan Bali walaupun Pembina dan potensi siswa sangat besar. Apakah dengan begitu, kami menyerah ? Tidak. Para siswa didorong berkembang di club-club dan sanggar-sanggar. Kegiatan tetap berlangsung secara daring sehingga potensinya tetap berkembang. Sekolah memfasilitasi siswa dengan memberikan izin berlatih dan berkembang di luar sekolah, dengan prinsip, semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah guru.

Bagaimana dengan Tahun Pelajaran Baru, 2020/2021 yang dimulai sejak 13 Juli 2020 ? Sebagai sekolah baru dengan keterbatasan SDM (pendidik dan tenaga kependikan), BDR dimulai dengan mengembangkan budaya “SADAR” (Saling berbagi dengan Daring dari Rumah). Implementasinya, pembelajaran dilakukan dengan Kelas Kolaborasi. Guru dari sekolah menyapa siswa di rumah dengan aplikasi zoom dan disiarkan pula secara live stremming di youtube. Siswa di rumah dapat mengakses pembelajaran kapan saja dari mana saja. Siswa dirancang bisa belajar secara fleksibel.

Prinsifnya : Guru berbagi dari sekolah, siswa di rumah saja. Guru ke sekolah karena jumlahnya hanya 18 orang dan memenuhi syarat sesuai dengan protokol kesehatan. Dengan ke sekolah, mereka juga bisa saling berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan sesama guru. Dengan hadir di sekolah, para guru juga bisa saling menguatkan. Kehadiran guru di sekolah juga dimaksudkan untuk memastikan pembelajaran berlangsung karena jaringan wifi di sekolah tersedia secara memadai.

Melalui Kelas Kolaborasi, guru bisa mengajar secara panel bersama-sama. Misalnya, guru bahasa Indonesia, bahasa Bali, dan bahasa Inggris masuk room bersama untuk semua kelas di jenjang yang sama. Topik yang dibahas adalah topik beririsan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain. Dengan topik cerita rakyat, Pan Balang Tamak dari Bali, misalnya dapat menjadi topik bahasan dalam tiga bahasa sekaligus. Guru bahasa Bali membahas anggah-ungguh (tingkatan bahasanya) sesuai dengan karakter bahasa Bali, guru bahasa Inggris membahas kata sambung (konjungsi) dalam kalimat cerita, dan guru bahasa Indonesia membahas struktur bahasa Indonesia bakunya.

Dengan demikian, materi pelajaran tiga bahasa berpusat pada cerita yang berkisah. Nilai-nilai karakter budaya bangsa dengan enam profil pelajar Pancasila seperti diperkenalkan Mendikbud Nadiem Makarim : berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, nalar kritis, kreativitas, dan kebhinekaan global dapat ditanamkan pada siswa melalui kisah Pan Balang Tamak.

Dengan strategi mengajar secara tematik ini, siswa dapat memerkaya dan memperdalam cerita Pan Balang Tamak. Secara implisit guru dan siswa belajar memahkotakan kearifan lokal Bali, menguatkan semangat kebangsaan untuk Indonesia Maju, seraya mengangkat kisah lokal ke ranah global untuk dunia lebih beradab berkemajuan dan berkebudayaan. Pembelajaran menjadi hemat waktu, guru dan siswa juga bisa hemat biaya. Tugas terintegrasi antarmata pelajaran tidak memberatkan siswa. Siswa senang dan bahagia belajar dengan tugas minimal tetapi dengan capaian maksimal. Melalui kolaborasi itu pula, keterlibatan orangtua dimungkinkan dari rumah.

Demikianlah pembelajaran dielaborasi dengan keterbatasan SDM, taktik dimainkan. Protokol kesehatan dilaksanakan. Merdeka belajar ditegakkan. Semangat berkebudayaan diimani. Kebahagiaan siswa menjadi fokus. Keluhan siswa dan orangtua diminimalkan. Masalah tidak selesai dengan keluhan. Masalah dicarikan solusi melalui Kelas Kolaborasi dengan aneka kreasi yang menarik, menyenangkan, dan mebahagiakan pengajar dan pembelajar. Inilah merdeka belajar dari sekolah pada masa pandemi.

Penulis *Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *