(Rabu, 15/05/2024) – SMAN 2 Kuta Selatan mendapatkan kunjungan spesial dari Museum Yadnya  dalam tajuk kegiatan “Museum Keliling : Goes to School”.  Museum Yadnya memberikan pelatihan bagi siswa untuk membuat salah satu sarana upakara dasar  Agama Hindu yaitu Pejati.  Pejati  berasal dari suku kata pa  artinya “alat” dan kata  “jati” artinya “sungguh”. Pejati adalah banten yang dipakai sebagai sarana untuk menyatakan kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi Wasa dan manifetasi-Nya bahwa umat akan melaksanakan suatu upacara serta memohon agar disaksikan dan dituntun oleh Beliau. Demikian inti sari wejangan yang disampaikan oleh Ketua PHDI Kabupaten Badung Dr. Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag bersama  Ida Pandita Mpu Istri Yogi Nariswari sebagai narasumber dalam kegiatan Museum Keliling di Aula  SMAN 2 Kuta Selatan.

            Kepala SMAN 2 Kuta Selatan, Dr. Drs. I Nyoman Tingkat, M.Hum mengapresiasi kegiatan positif Museum Keliling ini untuk menyebarkan informasi dan kecintaan siswa/i SMAN 2 Kuta Selatan terhadap budaya dan Agama Hindu lebih-lebih Hindu di Bali yang dikenal sebagai Pulau Sorga. ‘Berbahagialah kita lahir di Bali, di Pulau Sorga. Maka, jangan sampai sorga rusak. Mari jaga bersama dengan memuliakan warisan leluhur dan kearifan lokalnya termasuk upakara banten-nya. Melalui banten-lah manusia Bali diharapkan eling, waspada, dan sadar dengan jati dinrinya agar Bali ajeg”, kata I Nyoman Tingkat mengingatkan peserta sosialisasi dan praktik  yang berjumlah 40 orang.

             Sebelum dilanjutkan dengan praktik membuat pejati  oleh  Ida Pandita Mpu Istri Yogi Nariswari, Ketua PHDI Badung menyerahkan bantuan sejumlah buku kepada Kepala SMAN 2 Kuta Selatan. Atas bantuan buku itu, Kepala SMAN 2 Kuta Selatan menyampaikan terima kasih atas bantuan PHDI. Semoga dapat meningkatkan literasi keagamaan bagi warga besar SMAN 2 Kuta Selatan.

            Kegiatan membuat banten pejati  dibimbing  oleh Ida Pandita Mpu Istri Yogi Nariswari didampingi sejumlah praktisi serati banten berlangsung atraktif penuh kehangatan. Ida Pandita Mpu Istri Yogi Nariswari tidak hanya melatih siswa membuat pejati, tetapi juga menyelipkan makna di balik pejati itu.  Hal ini penting dilakukan, mengingat zaman  modern lebih banyak anak muda ingin serba mudah dan simpel untuk membeli.  Pelatihan ini  berguna untuk  mengenalkan  anak muda tentang fungsi dan makna sarana banten pejati tersebut.

              Ida Pandita Mpu Istri Yogi Nariswari berharap anak muda sekarang ini harus bisa melestarikan budaya dan adat nenek moyang agar tetap sesuai pakem tetapi bisa menyesuaikan Zaman. Belajar mengenal yadnya mulai dari yang kecil hingga besar karena sesungguhnya manusia Hindu  Bali   sejak lahir sampai mati terus melaksanakan yadnya.

            Sebelum mengakhiri kegiatan, ketua PHDI Badung sempat melihat-lihat stand Pameran P-5 yang kebetulan sedang berlangsung di halaman SMAN 2 Kuta Selatan. Sungguh tepat acaranya diberi tajuk Museum Yadnya Goes to School (ads).


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *